Cerita pengalaman mistis kali ini di bagikan oleh pengguna twitter @kelakeheulakela
Gunung Gede via Salabintana
– diikutin nenek nenek dan ketemu manusia setengah ular di surya kencana –
Asalamualaikum zheyenk.
berjumpa lagi dengan Ajiz malik pajar
manusia terganteng sekeluarga.
hehehe dikesempatan kali ini gw bakal ceritain pengalaman temen gw saat muncak di gunung gede yang menurut gw menarik dan lumayan gurih juga. untuk menghindari ambigu jadi disini gw akan berperan sebagai temen gw.
Akhir 2015,tepatnya bulan desember 2015, waktu itu bertepatan dengan libur semester sekolah.
sebelumnya kenalin nama gw Sandi irawan sering di panggil nunuy.
disini gw akan bercerita tentang pengalaman gw naek Gn. Gede jadi ini pengalaman pertama dalam hidup gw maen ke gunung, gw gapernah sama sekali maen ke gunung, dan ini pun juga gw ikut temen gw, jadi ini bukan pure rencana gw.
gw muncak bareng 4 temen gw, sebut saja iki, tiyo, dewek, dan enak, (dibaca énak) bukan kental manis cap enak jadi gw muncak bareng mereka ber4 jadi total 5 orang, dan dari 5 orang ini yang punya pengalaman cuman si iki dan tio, gw enak sama dewek pengalaman pertama. 16 Desember 2015 tanggal kita muncak. kita ngambil jalur salabintana, jalur non resmi, oh iya kebetulan domisili gw di sukabumi, jadi lumayan deket lah ke rumah.
jalur salabintana ini terkenal dengan jalurnya yang panjang -+12km di tahun 2015 ini di salabintana ini masih sepi, ga setenar cibodas ataupun gunung putri.
kita berangkat ngetrack itu jam 12 siang, jadi rencana itu kita sampe surya kencana sebelum gelap lah intinya.
maaf sebelumnya, waktu gw masih anak sekolah itu punya kebiasaan yang gak patut untuk di contoh, jadi sebelum ngetrack itu maaf sekali lagi kita minum minum dulu, ceritanya biar kuatlah, dan nyatanya? ini menjadi pertanda yang kurang baik.
jam 12 tepat selepas dzuhur kita mulai tracking, jalur salabintana ini terkenal dengan kebun tehnya, kebun teh yang luas, sejauh mata memandang itu kebun teh kalo kata anak sekarang itu mantap beud, waktu itu lagi hits nya lagu payung teduh. dengan mini speaker yang menggantung di tas kecil, sepanjang jalan itu kita dengerin lagu payung teduh, indie banget lah.
hampir 3 jam kita tracking tepatnya pukul 3 sore kita sampe di sebuah tanah landai diantara pos 1 dan pos cigeber, lumayan lama juga untuk ukuran anak muda, ya emang kita ngaso juga si ngetracknya. disinilah mulainya terjadi kejanggalan yang kurang di masuk dari akal,
cuaca yang tadinya cerah lambat laun menjadi mendung. “ki, hujan gak ya?” tanya gw ke si iki
“enggak kayanya deh, jangan sampe” timbalnya
ditengah percakapan si dewek memotong
“gapapa hujan juga kan ada si enak, enak kan jago, ada petir juga di tangkis sama diamah” gurau si dewek di sambut tawa “ah jangan sompral gak baik” sahut iki mengakhiri percakapan.
benar saja hujan gerimis mulai turun, suhu mulai turun, terasa sangat dingin, iki panik, karena tidak adanya tempat berteduh, untung saja kami masing masing membawa jas hujan, dipakailah masing masing.
tiba tiba… “itu nenek nenek mau kemana ya sendirian gini hujan hujan” tanya si dewek
“nenek nenek mana ?” tio kembali melontarkan pertanyaan
“itu deket pohon” jawab dewek
“ah lagi nyari kayu bakar kali” jawab si iki
“oh iya iya iya” jawab dewek tiba tiba, si nenek menoleh ke arah kita, dengan mata melotot mengancam, jarak kita tidak terlalu dekat dan terlalu jauh, 25 meter -+. “liat liat dia melotot ke arah kita” seru gw di sambut semua memperhatikan nenek nenek
“hayoloh lu si diomongin” seru enak
nenek nenek mulai beranjak dari tempatnya, dengan mata masih memperhatikan kita semua, dia mulai mendekat, beberapa detik berselang si nenek sudah sangat
– dekat dengan kita
“Assalamualaikum mi” gw salam memberanikan diri
tanpa adanya jawaban dengan wajah datar dan mata masih memperhatikan kita. jujur gw parno takut dan bingung paling utama, ini nenek siapa? mau kemana?
tanpa gw sadari si nenek udah ada di depan kita
“mulih timana mi?” (abis dari mana nek?)
tanya gw masih nihil jawaban.
hingga si nenek melewati kita, dia masih saja memperhatikan kita dengan kepala menoleh.
lalu senyum merekah di wajah si nenek, senyum yang sangat sangat menyeramkan, seperti senyum ancaman lalu dia menoleh ke arah depan, dia berjalan cepat sekali, benar benar seperti bukan nenek nenek, beberapa saat kemudian dia pun hilang di telan rindangnya pepohonan “itu nenek dari mana ya” tanya tio memecah keheningan
“gak tau,hati hati ajalah gak enak perasaan gw” jawab iki
“yuk ah lanjut, musti gerak tubuh biar ga kedinginan takut hipo” seru si iki tanpa berfikir panjang kita pun melanjutkan perjalanan, jam 4 sore, tepat kita sampai di cigeber, hujan semakin deras
“dingin” suara si enak sayup terdengar
tiba tiba diapun terdiam.
apa yang kami takutkan pun terjadi. ya, si enak hipotermia, dia menggigil hebat panik itu yang kami semua rasakan
“woy peluk peluk sini cepet rangkap semua peluk”
“tenda! tenda keluarin” seru iki
dikeluarinlah tenda sama si tio
“langsung masuk gausah pake frame” tegas si iki sangat panik akhirnya kamipun masuk kedalam tenda
“lepas baju si enak ganti sama yang kering” dilepaslah bajuenak di ganti sama yang kering
hampir 1 jam kita terjebak di derasnya hujan, kilat petir menggelegar saling bersahutan, seram mencekam, hari mulai gelap kami masih terjebak di dalam tenda.
hujan mulai surut hanya rintik kecil yang masih setia menemani
enak sudah mulai siuman, alhamdulillah.
setelah dirasa memungkinkan ; “lanjut gak? males ngecamp disini” seru iki
“nak gimana kuat gak?” gw nanya enak memastikan lanjut apa enggak
“ayolah surken aja kita camp”
“tapi yakin gak? takutnya hipo lagi” tanya iki ke si enak
“yakin ayo pelan pelan” akhirnya kamipun memutuskan untuk lanjut, dengan keadaan tenda yang basah dan baju si enak yang basah juga mau tidak mau beban pun bertambah karena air. pukul 5 sore lebih kami kembali tracking
tapi ada yang aneh sama si enak, dia sering berhenti dan bengong dengan tatapan kosong
“nak kenapa”
“engga gakpapa lanjut aja, pelan pelan jalannya ya”
“yaudah jangan maksain kalo gak kuat bilang aja” jam 7 malam kita sampai ke cileutik
kita memutuskan untuk istirahat
“mau masak gak? laper gak?” tanya iki
“bebas masak boleh engga gakpapa masih belum laper juga” jawab si dewek, disambut semua mengiyakan
“yaudah di alun alun aja berarti kita masak” gw menyambut menjawab “itu kepala?” tanya enak mengagetkan
“mana?” tanya gw kaget
“itu kepala!, kepala doang!!”
enak panik ketakutan
harusnya kalo ada hal kaya gitu jangan diceritain langsung karena itu sudah jadi kode etik pendaki “itu kepala Astagfirullah” enak mulai meringis ketakutan.
dia ngeliat kepala tapi gak ada badannya katanya ngelayang gitu aja dengan isian tubuhnya kayak kuyang gitu
tapi hanya dia yang melihat kita ber4 gaada yang melihat mencoba menenangkan
“nak istigfar atur nafas, salah lihat gak ada apa apa itu, istigfar nyebut” seru iki mencoba menenangkan
enak beranjak berdiri
“lanjut ayo lanjut takut gw takut” enak panik ketakutan
kami ber 4 saling tatap menatap heran
kenapa?
ada apa? “tenang nak tenang!” tio dengan nada agak membentak
“ayo lanjut tapi tenang gausah takut gak ada apa apa” timbalnya lagi
dengan keadaan yang membingungkan dan penuh tanda tanya, akhirnya kami pun melanjutkan tracking
enak terdiam ketakutan
“Anj*ng!! kepala!!!” enak berteriak kami semua kaget
“apa? mana gak ada gak ada, gak ada apa apa nak gak ada, istigfar nak nyebut” iki mencoba menenangkan
“balik lagi gw, pengen balik gak kuat gw gak kuat” enak meringis ketakutan
“tenang dulu nak, satu tanjakan lagi kita sampe ke surken tenang, bentar lagi sampe di surken” enak terduduk lesu
takut, pasti itu yang ia rasakan
“nak berdiri nak, kita lanjut lagi ayo” si tio menyemangati enak dan mencoba meyakinkan
break kita lumayan lama, jam di tangan menunjukan pukul 8:30 malam lanjut tracking, cuaca sudah tidak bersahabat, hujan turun kembali
waktu menunjukan pukul 9 malam, seharusnya sudah sangat dekat ke surya kencana, tapi, jalan yang kami tempuh terasa sangat jauh
“masih jauh gak si?” tanya gw ke si iki, “engga udah deket” jawabnya kami terus menyusuri lebatnya hutan di kegelapan malam, kami terus berjalan, terus berjalan
hingga waktu menunjukan pukul 10 malam, kami sampai di surya kencana
hati sedikit tenang, tapi, hujan turun kembali sangat lebat petir menggelegar bersahutan. tepat diatas kepala kami, sangat mencekam kondisi saat itu
“hujan hujan, kita ke ujung disana ada gua, kita neduh dulu” seru si tio
“ayo ayo” kami semua bergegas kami menyusuri sudut” surya kencana, sampai kami menemukan sebuah gua
“masuk masuk permisi dulu” seru si tio
“Asslamaualaikum” serempak kami mengucapkan salam selang beberapa waktu, kami mulai mengeluarkan isi tas, makanan minuman kompor, lalu kami memasak makan malam, waktu itu kami makan sangat banyak ya mungkin karena cape dan lapar juga sedari siang tidak makan sedang nikmat nikmatnya makan, kemudian seekor musng masuk bergabung dengn kita
“hus hus” dewek mencoba mengusir
tapi yang di dapat? si musang malah menatap kami dengan mata bercahaya karena pantulan senter kami kami semua bingung, ini hewan kok gatakut sama kehadiran kita
“hus hus, nih makanan keluar” si dewek kembali mengusir sambil melemparkan sepotong sosis
tapi si musang tetap memperhatikan kita dari mulut gua “Assalamualaikum punten kami kahujanan ngiring ngiuhan, punten” si iki salam mengagetkan kita semua
tiba tiba, si musang pergi begitu saja
“udah biarin kita yang bertamu di sini, biarin udah” seru si iki seakan faham apa yang terjadi angin berhembus kencang, malam terasa sangat dingin, waktu menunjukan pukul 12 malam.
“pasang tenda yuk” seru iki
“hayuk ah udah ngantuk + dingin juga” jawab gw
tenda di keluarkan, lalu kami pun mulai mendirikan tenda. Ditengah tengah kami mendirikan tenda, si enak kembali hipo “keluarin sleeping bag, cepet tutupin pake sb, selimut juga!” seru si iki
lalu gw pun sama siiki nyelimutin sambil meluk si enak
“tio dewek kalian cepet masang tendanya” selang beberapa menit tenda selesai didirikan
“bopong si enak, bawa masuk tenda” seru tio
kamipun membopong si enak masuk tenda
“wek masak air buat si enak” seru tio
si dewek pun mulai memasak air di luar tenda tiba tiba
terdengar suara tertawa wanita melengking sangat kencang, terasa sangat dekat, tapi tidak ada siapa siapa dan tidak ada apa apa, kami semua mendengar, kaget, kami semua mendengar, si enak yang tadinya sangat dingin, tiba tiba menjadi panas. seperti orang yang demam mata dia melotot, tapi menatap kosong, dengan wajah datar yang menurut kami sangat menyeramkan.
“tidurin baringin si enak tambahin lagi selimutin dia” seru iki dengan posisi kami ber4 di dalam tenda, dan si dewek di mulut tenda tiba tiba tali tenda seperti ada yang menyenggol, seperti di pegang “sesuatu”
“cpret” kira kira seperti itulah, terbayangkan? “apa tuh?” si dewek kaget
“hewan kali” jawab si tio
“coba cek” seru tio
“sama lu aja takut gw” jawab dewek
“sama gw jga, jawab tio enggan mengecek
“ber 2 ayo”ujar si dewek
tio meng iyakan
akhirnya mereka berdua pun keluar mengecek tiba tiba
“Anjing!, wek masuk cepet wek” tio panik
akhirnya mereka berdua pun lari masuk tergesa gesa, lalu mereka menutup pintu tenda
mereka melihat di ujung dibelakang tenda kami itu ada mbak kunti lagi maen sama musang yang tadi kita liat di gua “knapa wek? tanya si iki
“kuntilanak anj*ng” jawab si dewek
.tiba tiba si enak bangun
dia mulai nangis tersedu sedu tiba tiba angin berhembus sangat kencang, diikuti petir yang saling menggelegar, tapi saat itu tidak hujan.
ditengah” hembusan angin terdengar suara tertawa mbak kun keras sekali, tepat dibelakang tenda kita, beberapa saat kemudian di luar tenda kami seperti ada orang yang- sedang berkeliling, mungkin setelah 3putaran tiba tiba gubrak tenda kita rubuh seperti ada yang mendorong dan di tarik sekaligus, frame tenda kami terlepas, lampu senter kami mati, gelap gulita di dalam tenda dengan masih di temani suara mbak kun yang masih tertawa, si enak menangis semakin menjadi jadi.
“hayang balik aing hayang balik” (pengen pulang pengen pulang) “Nak sadar nak tenang nak hey, tenang) si iki mencoba menenangkan, masih dengan suara si enak yang menangis tersedu sedu, muncul kembali suara mbak kun, kali ini dia tidak tertawa melainkan “ikut” menangis suasana semakin mencekam
dengan kondisi tenda yang rubuh, dan hanya terbopong oleh kepala kita masing masing yang masih terduduk. “diem napa kaki siapa si ini kena punggung” (betis kaki) ujar si tio.
dan ternyata, itu adalah seekor ular yang melintas di atas tenda kita, kenapa bisa tahu, karena saat itu gw ngeliat siluet tubuh ular yang sedang melintas kami semua mulai berdoa sebisa mungkin kita memohon agar diberi keselamatan oleh tuhan.
kejadian ini berjalan cukup lama, kalo gak salah itu sampe menjelang subuh. kejadian ini berjalan cukup lama, kalo gak salah itu sampe menjelang subuh.
suara tertawa dan menangis mbak kun sudah tidak terdengar lagi.
si enak sudah tenang, angin berhenti bertiup. pukul 4 malam lebih kurang, di bawah tekanan ketakutan kamipun sepakat untul membenarkan tenda karena memang tidak nyaman juga berada didalam tenda yang rubuh pagi bukan malam iki, tio, dewek mereka ber3 yang membenarkan tenda. sedangkan gw masih nemenin si dewek yang masih sayup
setelah selesai membenarkan tenda terdengar iki berteriak
“an*jing cepet masuk tenda lagi woy cepet”
“knapa?” tanya tio
“masuk aja cepet” “masuk woy cepet, cepet, tutup tenda” seru si iki
“knapa? tanya gw
“masuk aja cepet”
.setelah masuk diapun mulai bercerita
di luar dia gak sengaja nyenter sosok manusia setengah ular
sontak kami kaget, apakah yang tadi ular melintas itu dia?
entahlah. setengah jam berlalu kami semua lelah, takut dan mengantuk.
setelah beberapa saat berlalu kami semua memaksakan tidur.
.skip karena kami semua “begadang” kamipun terbangun tidur pukul 10:30 siang.
si enak sudah sehat kamipun sarapan sekalian makan siang.
waktu itu karena semua sepakat dan si enak juga sudah siuman, akhirnya kamipun summit attack ke puncak. dengan tenda yang kami tinggal, hanya barang” penting yang kami bawa karena kami yakin tidak akan terjadi apa apa
skip.
kami turun jam 1 siang, alhamdulillh tidak terjadi apa apa.
kami kembali turun ke surya kencana dan membereskan tenda yang tadi kami tinggal. kami membereskan alat alat kami dan mulai tracking turun jam 2 siang kembali di perjalanan pulang kamipun mengalami keganjilan.
turun dari puncak, kami sampai ke cileutik jam setengah 3 siang
hujan jembali turun kami semua panik karena takut si enak hipo atau malah diantara kami yang hipo
hujan lebat ditemani angin kencang dan petir. kali ini giliran gw yang melihat kepala 🙂
kepala!
“Astagfirullah” gw istigfar mengagetkan semua
“kenapa lagi?” tanya tio
“anj*ng kepala orang itu cepet turun nya ah udah gak kuat gw” “duh sakit kaki” tiba tiba kaki si enak keram
“aduh ada ada aja nyusahin amat si nak” gw mulai kesel sama si enak
“bopong aja lah, sini tasnya biar gw yang bawa, nyusahin amat si dari kemaren” gw sangat kesal, tpi itu merupakan kesalahan berkata seperti itu sama si enak. “apa si marah marah mulu anj*ng sini gw bopong, ki bawa tasnya gantian” si tio kesal karena perlakuan gw
akhirnya si enak dibopong sama si tio dan tas si enak di bawa sama si iki sampai kita di pos cigeber, di sana gw kembali melihat nenek nenek yang kemaren
“ki ki itu nenek nenek yang kemaren kan? hujan geee gini ngapain disini”
“nenek nenek mana? halu fokus liat jalan! hujan gini fokus, cepet sampe dengan selamat!” si iki kesal, angin dan hujan bertambah deras
“nuy awas!!!” si dewek teriak sambil nendang gw, otomatis gw jatuh dan terguling ke bawah, diikuti si dewek yang ikut lari ke atas
*GUBRAK!!!!* pohon yang tadi tepat di sebelah kiri gw rubuh badan gw gemetar, kaget dan takut
“Astagfirullah, alhamdulillah ya allah” dalam hati gw istighfar dan bersyukur masih diberi keselamatan si tio dan dewek lari nymperin gw, bergegas ngangkat gw
“bangun nuy gapapan kan?”
“gapapa alhamdulillah, makasih wek”
“iya maaf juga gw nendang lu”
” gapapa wek makasih banyak” hujan masih deras diikuti angin bertiup kencang, badan kami basah meskipun mengenakan jas ujan.
dan dari tadi dari pos cigeber satu hal yg gw sadari, nenek nenek tadi ngikutin kita dari tadi, anehnya cuman gw yang nyadar dan ngeliat, yang lainnya gak ada yang liat. setelah break sebentar karena kepanikan tadi, jam 5 petang kami melanjutkan perjalanan, dan alhamdulillah sampai kita turun ke bawah itu gaada kejadian apapun.
kami berhasil sampai ke bawah dengan selamat. kami di bawah semua berkumpul, kami membuka semua baju kita, kami berpelukan, senang sekali kami semua turun dengan selamat.
kamipun semua beristirahat di pondok halimun salabintana.
setelah istirahat dan lelah mulai hilang akhirnya kamipun pulang ke rumah masing masing. apakah selesai?
gw kira kejadian ini selesai sampai disini saja, nyatanya pas gw nyampe rumah gw nyampe pukul 1 malam, gw udah nyiapin air anget karena niat gw mau mandi, pas di kamar mandi gw ngeliat nenek nenek yang di gunung tadi 🙂 gw ketakutan, tergeletak begitu saja tak sadarkan diri.
kata emak gw sih pas itu gw langsung kesurupan.
dan pas gw kesurupan itu si “empunya” yang masukin gw itu bilang gini “Budak iyeu teu sopan, ngarejet imah aing, ngomong teu di jaga, namu eweuh sopan santuna, uyuhan ku aing di balikeun teu di bawa ku aing, dibere salamet oge” (anak ini ga sopan, ngerusak rumah saya, ngomong gak di jaga, bertamu gaada sopan santun, syukur dikasih pulang juga gak di bawa) abis itu gw demam selama 7 hari.
dan abis kejadian itu gak terjadi apa apa sama gw dan temen temen gw juga.
gw nyeritain ini ke si enak dewek tio iki beberapa bulan kemudian. dan orang yang nyembuhin gw bilang ke gw, kalo ke gunung itu kalo ada ranting pohon atau apapun yang ngalangin itu jangan di patahin, cukup di singkirin aja pake tangan, karena di situ kita gatau ada apa dan punya siapa
Selesai… oke kembali lagi sama gw ajiz
jadi dari cerita temen gw di atas pelajaran yang gw dapet, yang paling harus di jaga waktu kita muncak ke manapun itu harus sopan, sopan santun yang utama dan jangan ngerusak apapun jangan ngambil apapun yang bukan milik kita.
oke zheyenk. si nunuy ini sampe sekarang katanya trauma gamau naek gunung lagi, cowok lemah! hahaha gw juga punya rencana mau ke gede tanggal 16-18 agustus pengen upacara di atas ada yang mau ikut? diutamain cewek jomblo ya hahaha😂
engga deng boong siapa aja boleh ikut kalo ada yang mau bareng
salam lestari
sampai jumpa dilain cerita
Wassalamualaikum wr. wb.
.